Sejarah

Generasi Ketiga

 

Setelah K.H. Ahmad Umar Abdul Mannan wafat tahun 1980, dalam usia 63 tahun, kepemimpinan Al-Muayyad diserahkan kepada K.H. Abdul Rozaq Shofawi. Beliau nyantri di Krapyak Yogyakarata di bawah asuhan K.H. Ali Maksum sambil kuliah di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga dan juga pada K.H. Hasan Asy’ari Mangli Magelang. Selesai nyantri pada Mbah Mangli, tepat tiga tahun, K.H. Ahmad Umar Abdul Mannan wafat.

Ibunda K.H. Abdul Rozaq Shofawi adalah Nyai Siti Musyarrofah binti K.H. Abdul Mannan, seorang hafidzah pada usia 16 tahun, yang diperistri K.H. Ahmad Shofawi setelah istri pertama wafat. Dari pernikahan itu lahir K.H. Abdul Rozaq Shofawi, Nyai H. Siti Mariyah Ma’mun, dan Siti Mun’imah yang wafat pada usia 35 hari, 30 hari setelah ibunda wafat.

Setelah Nyai Siti Musyarrofah wafat K.H. Ahmad Shofawi memperistri Nyai H. Shofiyah binti K.H. Ahmad Mu’id dan menurunkan K.H. Abdul Mu’id Ahmad, H. Muhammmad Idris Shofawi, serta Nyai H. Siti Maimunah Baidlowi.

Atas nasihat K.H. Muhammad Ma’shum Lasem Rembang, sepeninggal K.H. Ahmad Shofawi, Nyai H. Shofiyah diperistri oleh K.H. Ahmad Umar Abdul Mannan. Pernikahan ini tidak dikaruniai seorang putrapun.

Termasuk kejadian penting yang selalu diingat dalam generasi ketiga ini adalah terbakarnya kompleks pondok tanggal 31 Agustus 1982, 15 hari sebelum keberangkatan pengasuh dan tujuh sesepuh Al-Muayyad ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji, yang menghabiskan 13 kamar santri, dapur santri, kediaman pengasuh, dan perpustakaan K.H. Ahmad Umar Abdul Mannan yang menghimpun ribuan kitab dan bahan pustaka yang tak ternilai harganya. Musibah besar ini mengundang simpati besar masyarakat yang bergotong royong memberikan penampungan, keperluan makan minum, dan keperluan sekolah bagi 275 santri putra yang kehilangan tempat tinggal dan perlengkapannya. Masyarakat juga bahu membahudengan pengurus merehabilitasi asrama dan kediaman pengasuh, sehingga dalam waktu 40 hari bangunan-bangunan itu telah pulih kembali.

Dalam generasi ketiga inilah, Al-Muayyad melestarikan sistem kepesantrenan yang diidam-idamkan dan dikembangkan oleh dua generasi pendahulu. Yayasan yang menjadi tulang punggung manajemen pesantren diaktifkan, sehingga pembagian kewenangan, tugas, dan tanggung jawab para pengelola bisa dibakukan. Dengan pola semacam itu, Al-Muayyad berkeinginan mampu mewadahi dukungan masyarakat luas bagi penyiapan generasi muda dalam wadah pesantren dengan manajemen terbuka, karena pesantren sesungguhnya milik masyarakat.

Secara singkat tahap-tahap perkembangan Pondok Pesantren Al-Muayyad adalah sebagai berikut:

1930-1937 : Pengajian Tasawuf

1937-1939 : Pengajian Al-Quran

1939 : Berdiri Madrasah Diniyyah

1970 : Berdiri MTs dan SMP

1974 : Berdiri Madrasah Aliyah

1992 : Berdiri Sekolah Menengah Atas

1995 : Berdiri Madrasah Diniyyah Ulya

Dengan demikian memusatnya sistem pendidikan nasional pada Departemen Pendidikan & Kebudayaan dan untuk mengembangkan rintisan serta ikhtiar mewujudkan idaman K.H. ahmad Umar Abdul Mannan di bidang kurikulum, maka diselenggarakan Lokakarya Kurikulum Al-Muayyad pada bulan September 191 yang menjadi Madrasah Diniyyah Al-Muayyad sebagai tulang punggung tafaqquh fid-din

(pendalaman ilmu-ilmu agama).

Madrasah Diniyyah ini bersama-sama pengajian Al-Quran, sekolah dan madrasah berkurilkulum nasional, serta kegiatan kepesantrenan lainnya, menempatkan Al-Muayyad dalam keaktifan dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia, khususnya di bidang pendidikan, sejalan dengan panggilan untuk menyerasikan pola pesantren dengan system pendidikan nasional.

Untuk menjawab tantangan pembangunan nasional mendatang, pondok pesantren ini dituntut terus mengembangkan diri. Lahan di kompleks Mangkuyudan yang hanya seluas 3.650 m2 sudah tidak memadai lagi untuk mewadahi perkembangan jumlah santri dan satuan pendidikan yang dirintis, sehingga dukungan besar dari semua pihak sangat diperlukan.