Sejarah

Generasi Kedua

 

Hanya tujuh tahun Simbah K.H. Abdul Mannan memimpin pesantren, sebab tahun 1937 kepemimpinan pesantren diserahkan kepada putranya, K.H. Ahmad Umar Abdul Mannan, yang waktu itu baru berusia 21 tahun, sekembali dari belajr di pesantren-pesantren: Krapyak (Yogya), Termas (Pacita), dan Mojosari (Nganjuk). Mulailah Al-Muayyad sebagai sebuah pondok pesantren dengan kurikulum yang menitikberatkan pada pendalaman ilmu-ilmu agama Islam.

Pada tahun 1939, pengajian Al-Quran dan kitab kuning makin teratur, sehingga dipandang perlu mendirikan Madrasah Diniyyah. Sekalipun beberapa madrasah/sekolah kemudian menyusul didirikan. Karena pengajian Al-Quran menjadi inti pengajaran, sehingga Al-Muayyad dikenal sebagai Pondok Al-Quran. K.H. Ahmad Umar Abdul Mannan sendiri dikenal sebagai ahli di bidang Al-Quran dengan sanad (silsilah ilmu) dari K.H.R. Moehammad Moenawwir, pendiri Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Nama Al-Muayyad diberikan oleh seorang ulama besar, guru/mursyid Thariqah Naqsabandiyyah, yang bernama K.H.M. Manshur, pendiri Pondok Pesantren Al Manshur Popongan, Tegalganda, Wonosari, Klaten. Semula nama ini untuk masjid di kompleks pondok, yang kemudian dipergunakan untuk nama semua lembaga dan badan di lingkungan pondok pesantren. Al-Muayyad dari kata ayyada yang berarti menguatkan. Secara harfiah Al-Muayyad berarti sesuatu yang dikuatkan. Tafa’ul atau harapan yang tersirat di dalamnya adalah pondok pesantren yang dikuatkan/didukung oleh kaum muslimin.

Sejalan dengan meluasnya program pendidikan, para kiai yang mendukungpun bertambah. Tercatat antara lain: K.H. Abdullah Thohari, Kiai Ahmad Muqri, Kiai Idris, Kiai Danuri, KIai Sono Sunaro, K.H.RNg. M. Asfari Prodjopudjihardjo (Mbah Bei), K.H.M. Shodri, K.H. Moh. Yasin, K.H.R. Moh Jundi, K.H.M. Suyuthi, K.H. Abdul Ghoni Ahmad Sadjadi, K.H. Mochtar Rosyidi, Kiai M. Rofi’I, dan K.H. Ahmad Musthofa yang kemudian mendirikan Pondok Pesantren Al Qur’any di sebelah utara Al-Muayyad.

Sebagai pesantren yang dirintis dan tumbuh di masa perjuangan kemerdekaan, riwayat panjang menyertai Al-Muayyad. Waktu itu banyak santri dan kiai yang malam hari ikut bergerilya, sementara siang hari sibuk mengaji dan belajar. Sebagian besar juga turut khidmat/kerja bakti sukarela sebagai tukang dalam membangun masjid, asrama santri, dan fasilitas pesantren lainnya.

Masjid di tengah kompleks Al-Muayyad, dibangun mulai bulan Maret 1942, bersamaan dengan kedatangan balatentara Jepang di tanah air. Batu penyangga keempat tiang utama (saka guru) masjid ini berasal dari saka guru bekas kediaman Pangeran Mangkuyudha. Tahun1947 dibangun asrama putra dengan 12 kamar. Begitu selesai, meletus Agresi Belanda I. para santri dan kiai pejuang mendapatkan informasi bahwa Tentara Pendudukan akan menjadikan asrama santri itu sebagai barak.

Kiai-kiai sepuh menasihati agar para santri tabah dan bersedia berkorban. Bangunan permanen yang masih baru tersebut terpaksa dirusak agar tak layak huni. Dengan berat hati para santri memecah genting, mendongkel pintu dan jendela, mengikis dan mencoret-coret tembok dengan arang, memiringkan tiang-tiang, dan bahkan mananami halaman dengan rumput, singkong, dan sayuran secara tidak teratur untuk menempatkan kesan bahwa pondok itu tak layak huni sebagai barak tentara. Dan benar, asrama tersebut tidak jadi digunakan sebagai barak. Dalam situasi yang secara sembunyi-sembunyi dengan penerangan lampu kecil minyak tanah (ublik).

Justru karena letaknya di tengah kota dan sarat dengan nuansa keagamaan, Al-Muayyad tidak tampak sebagai tempat berhimpun para pejuang, baik yang bergabung dalam kesatuan Hizbullah, Sabilillah, maupun Barisan Kiai.

Setelah situasi tenang dengan kemenangan dipihak Tentara Nasional Indonesia, tahun 1952, asrama tersebut dibangun kembali. Masjid diperluas hingga hampir dua kali lipat. Para santri berdatangan dari berbagai daerah yang lebih jauh. Namun situasi tenang ini tidak berlangsung lama, sebab agitasi PKI tahun 1960-an membangkitkn suasana perjuangan di kalangan santri dan kiai Al-Muayyad. Pondok menjadi ajang pelatihan Banser (Barisan Ansor Serbaguna) dan Fatser (Fatayat Serbaguna).

Tragedi nasional G30S/PKI tahun 1965, sempat melumpuhkan kegiatan mengaji para santri. Sebagian aktif bersama-sama ABRI menumpas G30/SPKI, dan sebagian lagi diminta pulang untuk menjaga keamanan. Alhamdulillah tragedi berakhir dan suasana tenang kembali tercipta.

Refleksi atas sejarah tersebut melatarbelakangi para santri dan pengasuh Al-Muayyad untuk menyebut almamaternya sebagai Kampus Kader Bangsa Indonesia (KKBI).

Ciri khas K.H. Ahmad Umar Abdul Mannan di bidang kepemimpinan adalah kuatnya kaderisasi para kerabat, ustadz, dan santri dengan membagi tugas dan tanggung jawab kepesantrenan kepada mereka. Beliaulah yang memprakarsai pembentukan Lembaga Pendidikan Al-Muayyad (yang kemudian menjadi yayasan), penyelenggaraan Pelatihan Teknis Tenaga Kependidikan bagi sekolah/madrasah Ahlussunnah wal jama’ah dan Pekan Pembinaan Tugas Ahlussunnah wal jama’ah (PEPTA). Dimasa beliau pula Al-Muayyad menjadi anggota Rabithah al Ma’ahid al Islamiyyah (RMI/Ikatan Pondok Pesantren) dengan Nomor Anggota: 343/B Tanggal: 21 Dzul Qa’dah 1398 H/23 Oktober 1978 M di bawah pimpinan K.H. Achmad Syaikhu.