Mengapa 22 Oktober diperingati Hari Santri?

Oleh: Dr. Yudi Hartono, M.Pd.

Tanggal 22 Oktober adalah hari diserukannya jihad fi sabilillah melawan penjajah yang dikenal dengan Resolusi Jihad, tepatnya pada 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad berisikan kewajiban umat Islam mengangkat senjata melawan penjajah. Kewajiban itu fardlu ‘ain (kewajiban bagi setiap individu) bagi mereka yang dalam radius 94 km dari kedudukan musuh. Di luar itu fardlu kifayah.

Resolusi Jihad diserukan oleh KH. Hasyim Asy’ari di Bubutan Surabaya setelah rapat darurat dengan para kiai se-Jawa dan Madura (Sanusi, 2013:297). Resolusi tersebut tidak lepas dari makna jihad dalam kitab Fathul Mu’in “daf’u dlarar ma’qumin musliman kana au ghaira muslim” (melindungi kehormatan orang-orang yang perlu dibela, baik muslim maiupun non muslim) (El-Guyanie, 2010:120). Dalam kitab Hasyiyah I’anatut Thalibin juga dijumpai teks jihad yang secara kontekstual dipahami untuk mengobarkan semangat jihad mempertahankan kemerdekaan saat itu (Asmani, 2016:222).

Puncak dari Resolusi Jihad adalah Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Ahmad Mansur Suryanegara (2010:209), sejarawan dari Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung, menyatakan bahwa Resolusi Jihad berdampak pada membanjirnya para kiai dan santri berdatangan dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat ke Kota Surabaya, seperti Kiai Abbas dari Pesantren Buntet Cirebon, Kiai Asjhari dan Kiai Toenggoel Woeloeng dari Yogyakarta, Kiai Bisri Mustofa Rembang, dan Kiai Mustofa Kamil dari Garut.

Pertempuran 10 November 1945 menunjukkan jiwa patriotik penuh keberanian dari para ulama dan santri. Partisipasi santri dalam pertempuran itu sangat besar. Kaum santri penuh semangat melawan penjajah setelah mendengar fatwa Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari (Ismail,1999:4). Komandan pertempuran para kiai dan santri adalah Kiai Abbas dari Pesantren Buntet Cirebon (Rokhim, 2015: 227). Kiai Abbas dikenal sebagai “Singa Jawa Barat”. Ia mengirimkan santri pilihannya yang berpengalaman tempur di Bekasi, Jakarta, Priyangan Timur, Jawa Barat bagian Timur, dan Cianjur (Hasan, 2014: 92). Mereka bahu membahu dengan TKR (embrio TNI) yang baru dibentuk pada 5 Oktober 1945.

Bung Tomo membakar semangat dengan pekik takbir melalui Radio Pembrontakan Rakjat Indonesia. Menurut Riadi Ngasiran, Ketua Lesbumi Kota Surabaya, pekik takbir Bung Tomo merupakan ijazah (semacam bekal doa) dari KH. Hasyim Asy’ari (Setyarso dkk, 2016: 41). Kiai Hasyim menekankan kepada santri-santrinya tentang “tekbir” (takbir) sebagai senjata untuk melawan musuh. Sementara itu, Kiai Soebhi dari Parakan Temanggung membekali para santri dengan bambu runcing yang pejal tak berongga penuh doa sebagai pembangkit keberanian (Suryanegara, 2010:206). Dalam sejarah Indonesia, bambu runcing dikenal senjata paling menakutkan karena akibat yang ditimbulkan lebih mengerikan dari senjata api.

Surabaya menjadi ajang pertempuran yang paling hebat selama revolusi sehingga menjadi lambang perlawanan nasional. Kota Surabaya porak poranda dibombardir Sekutu dari segala penjuru. Sedikitnya enam ribu rakyat gugur. Pertempuran tiga minggu itu menjadi titik balik bagi Belanda bahwa NKRI ada dan mendapat dukungan kuat dari rakyat. Sekutu kemudian juga meyakinkan diri bahwa mereka sebaiknya bersikap netral dalam Revolusi Indonesia. Perang Surabaya berhasil mematahkan Perwira Tinggi Tentara Sekutu dan NICA (tentara Belanda) yang berpengalaman memenangkan Perang Dunia II (Ricklefs, 2008: 456-457).

Pertempuran Surabaya adalah kepahlawanan kolektif para ulama, santri serta rakyat Surabaya dan sekitarnya. Mona Ouzouf, sejarawan Perancis, mengatakan bahwa peringatan hari bersejarah ditujukan untuk mengingatkan semua orang bahwa “kita semuanya tetap sama seperti dulu dan ingin tetap sama di masa datang”. Memperingati Hari Santri adalalah mengenang dan melestarikan semangat dan nilai-nilai perjuangan membela tanah air, saat ini dan yang akan datang.*

Sumber:
Asmani, JM. 2016. Peran Pesantren dalam Kemerdekaan dan Menjaga NKRI. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.
Hasan, AH. 2014. Perlawanan dari Tanah Pengasingan Kiai Abbas, Pesantren Buntet dan Bela Negara.Yogyakarta: LKiS.
El-Guyani, G. 2010. Resolusi Jihad Paling Syar’i. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
Ismail, F. 1999. NU, Gus Durisme, dan Politik Kiai. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Ricklefs, MC. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi.
Rokhim, N. 2015. Kiai-Kiai Kharismatik & Fenomenal. Yogyakarta: iRCiSoD
Sanusi, M. 2013. Kebiasaan-Kebiasaan Inspiratif KH Ahmad Dahlan & KH Hasyim Asy’ari. Yogyakarta: Diva Press.
Setyarso, B dkk. 2016. Bung Tomo Soerabaja di Tahun 1945. Jakarta: Tempo.
Suryanegara, AM. 2010. Api Sejarah 2. Bandung: Salamadani.

Leave a Reply