Terrorist Has No Religion

Beberapa hari belakangan ini, masyarakat di Indonesia khususnya di wilayah Surabaya digegerkan dengan aksi “Suicide Bombing” yang sangat menarik perhatian nitizen diberbagai wilayah. Aksi bom bunuh diri terjadi di tiga yakni di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel Madya, Gereja Pantekosta Jalan Arjuno dan GKI Jalan Diponegoro pada hari Minggu 13 Mei 2018 sungguh sangat disayangkan dan memprihatinkan. Banyak korban tak bersalah berjatuhan akibat dari dampak bom bunuh diri ini.

Lebih mirisnya, dampak dari aksi ini seolah membawa mindset citra buruk ditudingkan pada masyarakat muslim. Bila dikaji lebih mendalam, islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam semesta yang menjunjung tinggi akan kesantunan, kedamaian dan persaudaraan. Perlu ditanamkan dalam mindset setiap insan bahwasanya setiap agama, baik muslim maupun non muslim sungguh tidak dibenarkan mengajarkan kebencian apalagi sampai mencelakakan nyawa sesamanya. Apabila aksi bom bunuh diri ini dikaitkan dengan dalih memerangi kemungkaran berdasarkan perspective islam, maka sungguh sangat salah kaprah diartikan.

Sebagai agama yang Rahmatan lil alamin, agama islam sungguh menjunjung tinggi bagaimana pola berperilaku terhadap sesama bahkan islam terus mengajarkan untuk tetap berbuat baik pada orang yang membenci sekalipun. Teringat dengan kisah Dakwah Nabi Muhammad SAW saat melewati Kota Thaif, Rasulullah dihujat bahkan dilempari kotoran serta bebatuan sampai berdarah sekalipun sehingga membuat malaikat ingin menjatuhi Kota Thaif dengan gunung. Akantetapi Rasulullah melarang permintaan malaikat tersebut. Rasulullah bahkan mendoakan kota tersebut beserta dengan penduduk didalamnya. Berdasarkan kisah singkat ini, sungguh sangat tidak dibenarkan apabila aksi bom bunuh diri ini disangkutkan dan ditudingkan kepada masyarakat muslim sebagai jihad memerangi kemungkaran. Figur teladan Rasulullah sebagai panutan umat muslim tidak mencontohkan penyebaran kebencian terlebih sampai menyebabkan nyawa seseorang hilang.

Agama apapun juga tidak akan mengajarkan untuk saling menebarkan kebencian dan kerusuhan. Aksi bom bunuh diri ini hanyalah oknum yang ingin membawa citra islam menjadi buruk. Maka dapat disimpulkan bahwa teroris tidak memiliki agama, pasalnya tak satupun agama mengajarkan untuk menebar kebencian.

Akibat dari aksi “Suicide Bombing” ini, tentu tidak hanya berdampak kerugian materiil, tetapi juga kerugian moral yang membawa duka serta keresahan mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat disekililingnya. Kita sebagai insan yang diberikan akal fikiran dan budi luhur oleh Allah SWT Tuhan YME, mari berusaha terus menjunjung tinggi kedamaian dan kerukunan.  Mari kita terus galakan sikap tenggang rasa dan mengedukasi diri sendiri, terlebih mengedukasi spiritual-batin-hati nurani untuk tidak mudah terpengaruh kepada hal hal yang negatif. Sebagai bukti tindakan nyata terhadap aksi bom bunuh diri ini, mari kita hindari untuk membagikan foto, gambar dan video korban pengeboman. Dengan tidak membagikan berarti kita telah berusaha menjaga kedamaian untuk tetap kondusif melangkah bersama memerangi terorisme yang merajalela. Dengan demikian kita sepakat bahwa “Terrorist has no religion”.

By: M. Fauzan Aminudin

Guru Bahasa Inggris Pesantren Mahasiswa Al Muayyad Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.

Leave a Reply