Berbesar Jiwa – KH M. Dian Nafi

MIMBAR JUMAT, 27 September 2019


Tak terhitung beberapa kali Nabi Muhammad SAW dilecehkan dan dihina. Itu beliau alami sejak wahyu turun dan beliau mulai berdakwah. Berbagai bentuk penistaan dilakukan kepada tokoh panutan ini. Dalam situasi itu beliau tetap berbesar jiwa. Itulah yang penting sebagai pelajaran bagi kita.
Allah berfirman dalam QS Al-Hijr [15] ayat 97-99, “Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (salat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”


Kita hidup bersama masyarakat banyak, Ada-ada saja yang mereka lontarkan tentang kita. Sebagian menyenangkan. Sebagian tidak menggembirakan. Adakalanya bahkan sangat menyusahkan.


    Menurut petunjuk dalam ayat itu, Nabi Muhammad SAW tidak diperintahkan untuk merespons aneka bentuk penghinaan. Yang diperintahkan Allah SWT justru bertasbih dengan memuji Tuhan, rajin melaksanakan salat, dan terus menyembah Tuhan hingga akhir hayat.


    Seperti respons itu tidak bersambung dengan tindakan penghinaan yang diterima Nabi Muhammad SAW, namun para ahli tafsir menjelaskan dengan sangat indah duduk pemahamannya.


    Penulis tafsir Mafatih al-Ghaib, Ar-Razi, menjelaskan dengan melakukan kebaikan-kebaikan itu justru Nabi Muhammad SAW sedang dibimbing oleh Allah SWT keluar dari kesempitan hati dan kesedihan.


    Orang-orang menghina karena di dalam pikiran dan hati mereka memang ada keburukan. Saat mereka menghina, itulah saat hal-hal yang tidak pantas itu mereka keluarkan. Sama dengan kita, tak perlu melihat apalagi menanggapi orang yang sedang membuang kotoran dirinya. Kita cukup menjauh saja.


    Saat itu kita tidak berdiam diri. Kita melakukan kebaikan demi kebaikan. Sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad SAW tetap bertasbih dengan memuji Tuhan, tekun melaksanakan salat, dan menikmati beribadah sepanjang hayat di kandung badan. 


    Ar-Razi menjelaskan kebaikan dan ibadah yang dilakukan oleh hamba beriman akan memindahnya ke tataran yang lebih tinggi. Laskana sebatang besi yang ditempa sedemikian rupa dan aneka masukan sehiingga menjadi baja antikarat.       

Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan, “Manusia itu laksana material tambang . . .” (HR Bukhari dan Muslim). Ibarat bahan tambang, manusia itu dapat ditempa, dibentuk, dipertajam, dan diperbaiki untuk menjadi sesuatu yang bernilai lebih tinggi.


    Nasihat Nabi Muhammad SAW itu memudahkan kita mengingat teman-teman kita yang pada masa kecil dan remaja menjadi bahan tertawaan, kini menjadi tokoh terpandang dan terhormat.


    Ternyata saat mereka dilecehkan dulu, mereka tidak membalas, mereka justru menempa dirinya. Allah SWT mengabulkan permohonan mereka. Jiwa besar selalu dibutuhkan kapan pun.       

Kehidupan yang semakin kompetitif dan dibanjiri aneka informasi dan misinformasi menyudutkan orang-orang untuk hidup dalam kecamuk perseptual. Banyak Informasi beredan dan diserap, namun tidak semuanya benar, apalagi bermanfaat.
   

Para ahli sosiologi mengingatkan jika kerukunan goyah danregulasi dipertanyakan, akan banyak kejadian yang menyedihkan. Pasang surut dalam kehidupan itu lumrah. laksana roda berputar.


    Dalam situasi itu penting bagi kita unruk tetap berjiwa besar. Kita bergerak sesuai dengan kewajiban, hak, dan kebutuhan kita. Saat kita melihat lautan nan luas, kita diingatkan akan ombak yang bergulung-gulung menelan dan menungkirkan apa saja.


    Dalam saat yang sama buih-buih yang tak berguna akan lewat berlalu, sementara yang bermanfaat abgi manusia akan tinggal mengendap di bumi. Tokoh sehebat Nabi Muhammad SAW menghadapi cobaan dihinakan, dan solusinya adalah berbesar jiwa.


    Kita bisa mengikuti jejak teladan itu. Caranya adalah kembali kepada tugas pokok manusia, yaitu beribadah dan berbuat baik semata-mata ilhlas karena Allah SWT. Jangan lupa kita jaga terus kerukunan dantetap patuh kepada semua peraturan perundang-undangan.
Insya Allah kita selamat.


K.H. M. Dian Nafi’
Pengasuh Pesantren MahasiswaAl-Muayyad Windan
Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo

Leave a Reply