Tetap Bersarung, Upacara HUT RI-75 PP Al-Muayyad Windan

Senin 17 Agustus 2020, tepat pukul 06.30 WIB seluruh santri baik putra maupun putri, dewan asatidz, serta pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan berbaris rapi di halaman pondok pesantren. Masing-masing berdiri di atas paving yang telah dicat putih dengan jarak satu meter antara tiap-tiap orang. Seluruhnya berseragam menggunakan sarung hitam, baju putih dan peci hitam bagi laki-laki. Serta rok hitam, baju putih, dan kerudung putih bagi perempuan.

Upacara bendera Merah Putih di Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan berjalan dengan khidmat. Meski singkat dan dengan barisan berjarak karena mengikuti protokol pencegahan Covid-19, upacara Bendera 17 Agustus tetap diikuti saluruh peserta dengan tertib dan penuh penjiwaan. Terlihat jelas bagaimana seluruh santri menjiwai momen pengibaran bendera Merah Putih dengan diiringi lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Seluruhnya hormat kepada bendera Merah Putih dan bersikap tertib mendengarkan lagu Indonesia Raya hingga Bendera Merah Putih berkibar di ujung tiang bendera yang memiliki panjang 7 meter itu.

Drs. KH. M. Dian Nafi’M.Pd yang menjadi pembina upacara memimpin pembacaan proklamasi dengan diikuti oleh seluruh peserta upacara. Kemudian memberikan pesan singkat untuk senantiasa mencintai bangsa Indonesia serta menumbuhkan rasa nasionalisme lewat momentum kemerdekaan. Selain itu, seluruh santri juga diberikan arahan agar meningkat peran aktif dalam mengerjakan hal-hal yang bermanfaat sebagai salah satu bentuk usaha mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebagai catatan, upacara bendera merah putih menurut Al-Maghfrulah Al-Walid KH. Ahmad Umar Abdul Mannan, pengasuh sekaligus pendiri pondok pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan merupakan bentuk wujud syukur atas rahmat Allah yang berupa kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagaimana tertera dalam manaqib KH. Ahmad Umar Abdul Mannan, yakni kitab Ad-Durul Mukhtar karangan Al-Maghfurlah Al-Walid KH. Ahmad Baidlowie Syamsuri, menantu Kiai Umar. Dalam kitab tersebut dijelaskan, Kiai Umar berkata pada suatau ketika, “Menurut saya, hormat bendera itu merupakan kegiatan menampakkan syukur kepada Allah Ta’ala, bukan dalam rangka menyembah bendera. Saya kira tak ada orang yang hormat bendera dengan niat menyembah.”

Bagi Kiai Umar, masalah hormat bendera bukanlah masalah pelik di mana pelakunya harus menggunakan landasan dalil rumit untuk bisa menjalankannya. Selain itu, hormat bendera bukan kegiatan yang melanggar terhadap norma syari’at agama dengan ditinjau dari sisi mana pun.

Red: Aldi Rizki Khoiruddin

Leave a Reply